Oleh Ustadz Muhammad Rofi’i Sitorus, M.A حفظه الله

Belajar Al-Qur’an pada masa kanak-kanak bukan sekadar mengenalkan bentuk-bentuk huruf hijaiyah atau melatih kemampuan membaca. Lebih dalam daripada itu, fase ini merupakan masa penanaman benih kecintaan kepada Kalamullah. Sebagaimana seorang petani tidak berharap memanen buah tanpa terlebih dahulu menanam benih dan merawatnya, demikian pula kecintaan kepada Al-Qur’an tidak tumbuh secara tiba-tiba ketika seseorang telah dewasa. Ia berawal dari perjumpaan pertama seorang anak dengan huruf-huruf Al-Qur’an.

Ketika seorang anak mulai mengeja Alif (ا), Baa’ (ب), Taa’ (ت) dengan bimbingan orang tua atau gurunya, sesungguhnya ia sedang diperkenalkan kepada kalam Rabb semesta alam. Memang benar, pada saat itu ia belum memahami makna susunan huruf-huruf dan ayat-ayat yang dibacanya, namun hatinya sedang dibiasakan untuk akrab dengan firman Allah. Lidahnya dilatih mengucapkan ayat-ayat suci, telinganya terbiasa mendengar lantunan Al-Qur’an, dan jiwanya mulai merasakan kedekatan dengan kitab yang kelak akan menjadi petunjuk hidupnya.

Pada usia dini, hati anak laksana tanah yang subur, bersih, dan siap menerima setiap benih yang ditanamkan. Apabila yang ditanam adalah kecintaan kepada Al-Qur’an, maka dengan izin Allah benih itu akan tumbuh menjadi pohon keimanan yang kokoh, berakar kuat dalam hati, dan terus berbuah sepanjang kehidupannya. Sebaliknya, apabila masa emas ini berlalu tanpa sentuhan Al-Qur’an, maka akan jauh lebih berat menumbuhkan kecintaan tersebut di dalam hati anak ketika berbagai kecintaan dunia telah memenuhi hatinya.

Karena itu, tujuan awal mengajarkan Al-Qur’an kepada anak bukan semata-mata agar ia cepat khatam atau mahir membaca, tetapi agar ia mencintai Al-Qur’an. Kemahiran adalah buah dari proses belajar, sedangkan kecintaan adalah ruh yang akan menjaga seseorang tetap bersama Al-Qur’an sepanjang hidupnya. Banyak orang yang mampu membaca Al-Qur’an dengan baik, namun hanya mereka yang mencintainya yang akan senantiasa kembali membacanya, mentadabburinya, mengamalkannya, dan menjadikannya sahabat dalam setiap fase kehidupan.

Mengenalkan huruf-huruf Al-Qur’an sejak kecil berarti sedang menanamkan ikatan ruhani antara seorang hamba dengan Sang Pemilik Kalam (Allah). Setiap huruf yang dipelajari menjadi langkah awal menuju tilawah yang benar, setiap ayat yang dihafal menjadi cahaya bagi hati, dan setiap kebiasaan membaca yang ditanamkan menjadi investasi jangka panjang menuju kehidupan yang dipenuhi keberkahan kebagian abadi di hari akhirat.

Rasulullah ﷺ bersabda :

مَنْ قَرَأَ حَرْفًا مِنْ كِتَابِ اللَّهِ فَلَهُ بِهِ حَسَنَةٌ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا لَا أَقُولُ الم حَرْفٌ وَلَكِنْ أَلِفٌ حَرْفٌ وَلَامٌ حَرْفٌ وَمِيمٌ حَرْفٌ

“Barang siapa membaca satu huruf dari Kitabullah (Al-Quran), maka baginya satu pahala kebaikan. Bahkan, satu pahala kebaikan itu akan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tak mengatakan Alif Laam Miim itu satu huruf, akan tetapi Alif itu satu huruf, Laam itu satu huruf, dan Miim itu juga satu huruf.” (HR. Tirmidzi 2835)

Nabi ﷺ bersabda :

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَأُ بِهَا

“Kelak akan dikatakan kepada ahli Al-Qur’an: Bacalah dan naiklah. Bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya di dunia, karena sesungguhnya kedudukanmu berada pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Tirmidzi 2838)

Maka, seorang anak sejak kecil mendapatkan catatan satu pahala pada setiap satu huruf yang dipelajari dan dibaca saat di dunia dari masa kecil, masa tumbuh kembang sampai masa tua. Adapun di hari akhirat ia akan mendapatkan ketinggian derajat surga melalui ayat per ayat yang pernah dipelajari, dibaca dan diamalkan di dunia. Sungguh sangat beruntung anak-anak yang masa tumbuh kembangnya disibukkan dengan Kalamullah Al-Quran.

Oleh sebab itu, para orang tua dan pendidik hendaknya memandang pembelajaran huruf-huruf Al-Qur’an bukan sebagai pelajaran membaca biasa, melainkan sebagai proses menanam benih cinta kepada Kalamullah. Sebab apabila cinta itu telah tumbuh, anak tidak perlu dipaksa untuk kembali kepada Al-Qur’an di masa dewasanya, justru hatinya sendiri akan selalu merindukan lantunan ayat-ayat Allah, hingga kelak Al-Qur’an menjadi teman setia di dunia, pemberi syafaat di akhirat, dan sebab diangkatnya derajatnya di surga.

Melalui pembahasan “Esensi Belajar Al-Qur’an di Masa Tumbuh Kembang”, kita akan mengkaji mengapa fase ini merupakan waktu yang paling strategis untuk menanamkan kecintaan kepada Al-Qur’an, bagaimana tuntunan syariat dalam mendidik anak dengan Al-Qur’an, serta apa saja buah dan keutamaan yang Allah janjikan bagi mereka yang tumbuh, hidup, dan meninggal bersama Al-Qur’an.

Nabi ﷺ bersabda :

سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمْ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللَّهِ وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْمَسَاجِدِ وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ فَقَالَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ يَمِينُهُ مَا تُنْفِقُ شِمَالُهُ وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

“Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan Allah, pada hari dimana tidak ada naungan selain naungan-Nya. Yaitu; Seorang imam yang adil, anak muda yang tumbuh kembang dalam ibadah kepada Allah, seorang laki-laki yang hatinya selalu terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah yang mereka berkumpul karena-Nya dan juga berpisah karena-Nya, seorang laki-laki yang dirayu oleh wanita bangsawan lagi cantik untuk berbuat mesum lalu ia menolak seraya berkata, ‘Aku takut kepada Allah.’ Dan seorang yang bersedekah dengan diam-diam, sehingga tangan kanannya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kirinya. Dan yang terakhir adalah seorang yang menetes air matanya saat berzikir, mengingat dan menyebut nama Allah dalam kesunyian.” (HR. Bukhari 6308, Muslim 1712)

Hadits di atas menyebutkan secara eksplisit bahwa salah satu dari tujuh golongan terhormat pada hari akhirat adalah anak-anak yang masa tumbuh kembang mereka sibuk dengan ibadah. Pastinya makna ibadah yang dimaksud pertama kali adalah ibadah-ibadah yang secara tegas diperintahkan dalam Islam seperti shalat, puasa, haji, baca Al-Quran, berzikir, menuntut ilmu syar’i dan lainnya. Maka diantara ibadah utama yang diperintah dalam Islam adalah belajar Al-Quran dan mengajarkannya, terutama pada anak-anak.

Nabi ﷺ bersabda :

إِنَّ أَفْضَلَكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ

“Orang yang paling utama di antara kalian adalah seorang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari 4640)

Allah Ta’ala memberikan predikat manusia terbaik bagi siapa saja yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya. Predikat ini pastinya lebih tinggi jika durasi umur yang dipakai untuk belajar Al-Quran lebih banyak, maka dengan cara mengajarkan Al-Quran pada anak-anak sejak dini di masa tumbuh kembang mereka, hal ini akan meningkatkan derajat manusia terbaik di sisi Allah bagi mereka.

Awal fase terbaik mengajarkan Al-Quran sudah boleh di mulai dari anak-anak mulai bisa berbicara, dan pada fase ini juga anak-anak mulai fokus pendengarannya, sehingga bisa secara langsung dua metode (melihat dan mendengar) diterapkan secara mendasar dan bertahap dalam mengajarkan Al-Quran pada anak usia dini. Umumnya anak-anak mulai bisa berbicara dan fokus mendengar di umur 2 tahun, maka masa ini bisa dimulai mengajarkan Al-Quran kepada anak-anak dengan cara menyebutkan huruf-huruf hijaiyah kepada mereka, sehingga mereka menirukan dengan keselarasan visual dan audio yang akan merangsang otak mereka untuk menirukannya. Secara visual, penglihatan mereka (kedua mata) akan memperhatikan gerak bibir orang yang mengucapkan. Secara audio, pendengaran mereka (kedua telinga) akan menyimak suara yang sesuai gerakan bibir saat melafalkan huruf demi huruf. Usahakan orang tua yang mengucapkan huruf-huruf dan kata-kata pendek dari Al-Quran ini pelafalannya tepat dan benar, agar anak-anak yang mendengarnya tidak salah dalam merekamnya dengan memori pada jaringan otaknya. Fase ini juga boleh di bantu dengan berbagai media yang menampilkan huruf-huruf hijaiyah serta audio penyebutannya, bisa juga dengan mainan-mainan huruf-huruf yang mengeluarkan suara pelafalannya. Sekaligus menyebutkan beberapa dzikir-dzikir pendek berupa takbir (Allahu Akbar), tasbih (Subhaanallah), tahlil, tahmid (Alhamdulillah), tasmiyah (Bismillaah) dan dzikir semisalnya.

Fase umur tiga tahun keatas, anak-anak sudah boleh di mulai mentalkinnya (menuntunnya) dengan membacakan ayat-ayat pendek (surat-surat terakhir juz 30), terutama mentalkin ayat per ayat dalam surat Al-Fatihah, karena surat ini kelak dewasa baginya wajib menghafalkannya dengan pelafalan yang tepat dan benar karena Surat Al-Fatihah salah satu rukun sah dalam shalat fardhu lima kali sehari, artinya wajib kelak baginya membaca Al-Fatihah sebanyak 17 kali dalam sehari semalam (Subuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya semua 17 rakaat).

Fase umur empat tahun seterusnya, anak-anak mulai ditingkatkan ritme talkin ayat per ayat seukuran kemampuan anak, jika terlihat lebih cepat maka segera ikuti ritme laju penambahan dan peningkatan hafalannya, namun jika ritme lebih lambat maka sesuaikan dengan kemampuan masing-masing anak dan jangan terlalu dipaksakan untuk tergesa-gesa karena hal itu bagian dari gangguan syaitan kepada kedua orang tua.

Rasulullah ﷺ bersabda :

التَّأَنِّي مِنَ اللَّهِ وَالْعَجَلَةُ مِنَ الشَّيْطَانِ

“Sikap tenang dari Allah, dan terburu-buru dari syaitan.” (Shahihul Jaami’ 3011)

Ikuti ritme anak dalam menghafalkan ayat per ayat, dan di fase ini juga boleh diperkenalkan buku-buku iqra’ yang mencantumkan tahapan demi tahapan belajar baca Al-Quran. Adapun anak-anak yang bisa baca ayat-ayat Al-Quran lebih cepat dari fase ini maka itu karunia Allah Ta’ala, demikian juga sekiranya anak-anak kemampuannya membaca iqra di atas fase lima tahun maka tidak perlu berkecil hati, karena poin penting adalah mengisi waktu anak dengan ibadah Al-Quran di masa tumbuh kembangnya sehingga ia mendapatkan janji-janji Allah di dunia dan akhirat.

Para pendahulu kita dari Salaful Ummah (Pendahulu Umat ini) juga berbeda-beda kemampuannya dalam ibadah Al-Quran ini, mereka generasi yang bersemangat dalam mendahulukan ilmu Al-Quran sebelum mempelajari ilmu-ilmu lainnya, walaupun kemampuan mereka berbeda-beda, pencapaian mereka terhadap Al-Quran juga berbeda-beda ditinjau dari durasi waktu yang dihabiskan dalam menghafalkan dan mempelajarinya, namun semangat mereka sangat tinggi sekali dalam mendidik generasi Islam sejak kecil dengan mengajarkan Al-Quran.

Berikut ini akan disebutkan beberapa riwayat belajar Al-Quran para salaf, diantaranya :

1. Seorang sahabat bernama Zaid Bin Tsabit Radhiallahu Anhu, umurnya baru 11 tahun atau setara kelas 5 SD di Indonesia kemampuannya hanya bisa menghafal 16 surat dari seluruh surat dalam Al-Quran sejumlah 114 surat, masih tersisa 98 surat Al-Quran yang belum dihafalkan.

Zaid Bin Tsabit Radhiallahu Anhu berkata :

قدم رسول الله ﷺ وأنا ابن إحدى عشرة سنة، وأَتى بي إلى رسول اللّٰه ﷺ فقالوا : غلام من الخزرج قد قرأ ستَّ عشرة سورة

“Rasulullah datang ke Kota Madinah sedangkan aku anak kecil umur 11 tahun, lalu aku dibawa ke hadapan Rasulullah lalu mereka berkata; “Anak kecil dari suku Al-Khazroj, sungguh ia telah menghafal 16 surat (dari Al-Quran).” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 3/421, Tarikh Ad-Dimasyq 19/302)

2. Seorang ulama tabi’in Muhammad Bin Sirrin Rahimahullah memiliki seorang anak perempuan bernama Hafsoh Rahimahallah yang telah menghafal Al-Quran sejak kecil. Iyas Bin Mu’awiyah Rahimahullah bercerita :

قرأت حفصة القرآن وهي بنت ثنتي عشرة سنة

“Hafsoh Binti Muhammad Bin Sirrin telah menghafal Al-Quran sedangkan umurnya 12 tahun.” (Siyar A’lam An-Nubala’ 4/507)

Anak perempuan berumur 12 tahun di zaman sekarang setara anak kelas 6 SD di Indonesia, ia telah menyelesaikan hafalan Al-Quran (114 surat, 30 juz).

3. Sufyan Bin ‘Uyainah Rahimahullah berkata :

قرأت القرآن وأنا ابن أربع سنين وكتبت الحديث وأنا ابن سبع سنين

“Aku menghafalkan Al-Quran sedangkan umurku 4 tahun, dan aku mulai menulis (menghafal) hadits sedangkan umurku 7 tahun.” (Fathul Mughits 2/147)

4. Imam Asy-Syafi’i Rahimahullah berkata :

حفظت القرآن وأنا ابن سبع سنين وحفظت الموطأ وأنا ابن عشر

“Aku menghafalkan Al-Quran sedangkan umurku 7 tahun, dan aku menghafalkan Al-Muwatha’ (Imam Malik) sedangkan umurku 10 tahun.” (Thobaqoh Al-Huffadz Lil As-Suyuti halaman 153)

5. Waqi’ Rahimahullah berkata :

“Ibrahim Al-Harbi punya anak laki-laki umurnya mencapai 11 tahun, ia telah menghafalkan Al-Quran dan telah ditalkinkan (dituntun melafalkan) kepadanya banyak hukum-hukum fiqih.” (Tarikh Al-Baghdad Lil Khathib 6/37)

6. Ibrahim Bin Sa’id Al-Jauhari Rahimahullah berkata :

رأيت صبيًا ابن أربع سنين ، قد حُمل إلى [بعض خلفاء بني العباس]، قد قرأ القرآن، ونظر في الرأي، غير أنه إذ جاع بكى

“Sungguh aku melihat seorang anak kecil umur 4 tahun digendong menemui sebagian Khalifah Bani Abbasiyah, dan anak itu telah menghafalkan Al-Quran serta memiliki kecerdasan, hanya saja jika ia merasa lapar maka ia menangis.” (Siyar A’lam An-Nubala’ 12/150)

7. Abu Muhammad Bin Al-Labban Rahimahullah berkata :

حفِظتُ القرآن ولي خمس سنين

“Aku telah menghafalkan Al-Quran sedangkan umurku 5 tahun.” (Siyar A’lam An-Nubala’ 12/150)

8. Abul ‘Ainaa’ Muhammad Bin Al-Qosim (191-283 H) berkata : “Aku pernah mendatangi Abdullah Bin Dawud Al-Huraibi, ia berkata; “Apa bekalmu?”. Aku menjawab ; “Hafalan hadits”, lalu ia berkata ; “Pergilah, hafalkan dahulu Al-Quran”, lalu aku berkata; “Aku telah hafal Al-Quran”. Lalu ia berkata ; “Coba lanjutkan ayat ini {وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ نُوحٍ} “Dan bacakanIah kepada mereka berita penting tentang Nuh…” (QS. Yunus 71), maka aku melanjutkan ayat tersebut hingga menyelesaikannya.” (Tahzib Al-Kamal 14/466)

9. Al-Walid Bin Muslim berkata : “Dahulu kami ketika duduk di majelis Al-Auza’i (88-157 H) lalu ia mendapati kami masih anak muda maka ia akan berkata; “Sudah hafal Al-Quran?”, jika kami jawab; “Sudah hafal”, maka ia akan berkata ; “Coba lanjutkan ayat ini {يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ ل} “Allah mensyari´atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu…” (QS. An-Nisaa’ 11). Namun jika kami menjawab; “Belum hafal Al-Quran”, maka ia berkata;

اذهب تعلم القرآن قبل أن تطلب العلم

“Pergilah, pelajari Al-Quran sebelum mempelajari ilmu lainnya.” (Al-Jaami’ Li Akhlaq Ar-Raawi 81)

10. Hafs Bin Ghayyas berkata : “Aku telah mendatangi Al-A’masy (Wafat 147 H) dan berkata; “Ajarkan aku hadits”, lalu ia berkata; “Apakah kamu sudah hafal Al-Quran?”, aku jawab; “Belum hafal”. Lalu ia berkata :

اذهب فاحفظ القرآن ثم هلم أحدثك

“Pergilah, hafalkan dahulu Al-Quran kemudian (setelah hafal) datanglah kembali akan aku ajarkan hadits.” (Al-Muhadits Al-Fashil halaman 86)

Bukan berarti mendahulukan Al-Quran mengharuskan hafal seluruh Al-Quran 114 Surat atau 30 Juz dengan waktu yang sesingkat-singkatnya, akan tetapi dengan sebatas kemampuan dan maksimal dalam ikhtiar, memotivasi anak-anak agar terus bersemangat, bersabar mendampingi mereka dengan pasang surut semangatnya. Sekiranya terlihat tidak memungkinkan menyelesaikan hafalan Al-Quran 30 Juz sekalipun dengan waktu yang bertahun-tahun maka hafalkan sebagian saja dari Al-Quran berapapun yang dia mampu menghafalkannya. Jika terlihat juga ketidakmampuan anak untuk menghafalkan ayat-ayat Al-Quran dengan jumlah yang banyak dalam satu waktu maka menghafalkan satu ayat sekalipun itu sudah sangat baik bagi anak, selama itulah batas maksimal kemampuannya. Karena yang paling urgen dari esensi belajar Al-Quran di masa tumbuh kembang anak adalah penanaman rasa cinta kepada Al-Quran pada jiwa anak dalam waktu yang panjang, sehingga ia tetap bersama Al-Quran sampai di akhirat.

Berikut ini potret para salaf dalam mempelajari Al-Quran dengan sebatas kemampuan walaupun hanya sebagian Al-Quran saja yang sanggup dihafal, dan hanya beberapa ayat saja dalam sekali menghafal, namun dalam masa waktu yang bertahan lama, diantaranya :

1. Al-Maimuni berkata : “Aku pernah bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad Bin Hanbal), manakah menurutmu yang lebih bagus, aku mulai mengajarkan anakku Al-Quran atau Al-Hadits?”, Ia (Imam Ahmad) menjawab; “Dahulukan Al-Quran”, lalu aku bertanya lagi; “Apakah aku ajarkan Al-Quran seluruhnya?”. Ia (Imam Ahmad) menjawab; “Benar, jika kesulitan maka sebagiannya saja.” (Al-Adaab Asy-Syar’iyyah 2/33)

2. Yunus Bin Abu Rajaa’ berkata :

كان أبو موسى الأشعري يعلمنا القرآن خمس آيات، خمس آيات

“Dahulu Abu Musa Al-Asy’ari Radhiallahu Anhu mengajari kami Al-Quran per lima ayat lalu lima ayat lagi.” (Jamal Al-Qurro’ 2/446)

3. Abul ‘Aliyah berkata :

تعلموا القرآن خمس آيات، فإنه أحفظ لكم

“Pelajarilah Al-Quran per lima ayat, karena cara itu lebih kuat hafalan kalian.” (HR. Ibnu Abi Syaibah 9980)

4. Abu Bakar Bin ‘Iyasy berkata :

قال لي عاصم بن أبي الجنود؛ ألا تقرأ علي كما قرأ يحيى على عبيد بن نضلة كل يوم آية

“Ashim Bin Abi Al-Junud berkata kepadaku; “Hendaknya kamu menyetorkan bacaanmu sebagaimana Yahya menyetorkan bacaannya kepada ‘Ubaid Bin Nadhlah, setiap hari cukup satu ayat.” (Ghoyah An-Nihayah Li Ibni Al-Jazari 1/498)

Ath-Thoyyib Bin Ismail berkata : “Aku menyetorkan hafalan Al-Quran kepada Husain setiap hari hanya satu ayat, dan aku berhasil menyelesaikannya dalam kurun waktu 15 tahun.” (Ghoyah An-Nihayah 1/344)

Semoga Allah memudahkan umat Islam menjaga Kitabullah Al-Quran melalui generasi demi generasi tetap semangat menjaga Al-Quran, mempelajari bacaannya, memahami kandungannya, mengamalkan ilmunya dan mengajarkannya.

Wallahu A’lam